SEJARAH TEBUIRENG

Minggu, Januari 11, 20090 comments

Tebuireng yang selama ini terkenal diseluruh penjuru tanah air adalah nama sebutan pondok pesantren yang didirikan oleh hadratus syekh KH. M. Hasyim Asy’ari, terletak di arah selatan jombang kurang lebihnya 8 km, brerada di dusun yang dilalui jalan beraspal jurusan jombang-pare, terletak berseberangan denagn Pabrik Gula Cukir yang di bangun oleh Belanda. Nama Pesantren tersebut diambil dari nama dusun dimana pesantren tersebut berada.

             Di dusun yang termasuk dalam wilayah kelurahan Cukir kecamatan Diwek, Pada tanggal 26 Rabbiul awwal 1317 H (yang bertepatan dengan tanggal 3 agustus 1899 M) berdirilah dengan kokoh sebuah pesantren tebuierng sederhana dan kelak menjadi pesantren sangat terkenal di seluruh dunia berdiri dengan kokohnya. Sehingga nama tebuireng bukan hanya nama sebuah dusun, tapi telah melekat erat dengan nama pesantren hingga kini. Demikian juga pendirinya, hadrotus syaikh K.H M. HASYIM ASY’ARI juga terkenal dengan sebutan “Kyai Tebuireng”.

              Dusun tebuireng dahulu konon bernama “KEBOIRENG” adalah profil sebuah dusun yang sesuai dengan nama aslinya “sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan semua perilaku negative lainnya ” namun sejak datangnya kyai hasyim asy’ari bersama santri yang beliau bawa dari pesantren kakeknya (Kyai Ustman) dari dusun Nggedang Kec.Tambelangan (wilayah utara kota jombang) pada tahun 1899 M. Secara bertahap lifestyle kehidupan dusun setempat berubah semakin baik, dan lama-kelamaan semua perilaku masyarakatnyapun terkikis habis dalam masa yang relatif singkat, dan santri yang mulanya beberapa orang dalam beberapa bulan saja mulai meningkat menjadi 28 orang.

              Awal mula kegiatan kyai hasyim asy’ari di dusun tersebut di pusatkan di sebuah bangunan kevil yang terdiri dari 2 ruangan terbuat dari anyam-anyaman bamboo (jawa : teratak), bekas sebuah warung pelacuran, yang luasnya kurang lebih 6 X 8 meter, yang beliau beli dari sebuah dalang terkenal, 1 ruang depan untuk musholla dan kegiatan pengajian, sementara yng belakang sebagai tenpat tinggal Kyai Hasyim Asy’ari dan Ibu Nyai Chotijah. Tentu saja dengan kegiatan tersebut tidak begitu saja memperoleh sambutan dari penduduk setempat, tantangan demi tantangan yang tidak ringan dari penduduk setempat datang silih berganti, para santri hamper setiap malam selalu mendapat tekanan fisik berupa senjata celurit dan pedang, kalau tidak waspada bias saja di antara santri terluka kena bacokan, bahakn untuk menghindari gangguan para perampok setiap malam, para santri harus tidur bergerombol menjauh dari dinding bangunan pondok yang hanya terbuat dari bambu itu agar terhindar dari jangkauan tangan–tangan jahil para penjahat. Gangguan semacam itu di alami oleh kyai hasyim asy’ari dengan para santrinya sampai kurun waktu 2 ½ tahun kurang lebihnya dan untuk mengantisipasi kejadian tersebut yang setiap saat menggengu ketenengan santri maka kyai hasyim asy’ari menyiagakan para santri untuk berjaga malam secara bergiliran setiap saatnya.

              Akan tetapi tantangan demi tantangan secara fisik tampaknya masih saja mengganggu ketenangan belajar para santri, hingga kyai hasyim asy’ari memutuskan untuk mengirim utusan ke cirebon guna mencari bantuan berbagai ilmu kanuragan kepada 5 kyai natara lain :


Ø Kyai Shaleh Benda

Ø Kyai Abdullah Pangurangan

Ø Kyai Syamsuri Wanantara

Ø Kyai Jamil Buntet

Ø Kyai Shaleh Benda Kerep


             Dari ke-5 kyai ahli kanuragan yang di datangkan dari cirebon itulah kyai hasyim asy’ari belajar ilmu silat dan kuntau selam 8 bulan. Dan sejak saat itu semakin mantab keberanian kyai hasyim asy’ari untuk melakukan ronda sendirian pada malam hari untuk menjaga ketentraman santri-santrinya.

             Keberadaan pesantren tebuierng semakin mendapat perhatian yang sangat lebih dari masyarakat sempat dan sekitar jombang, perannya sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga khusus yang menyiapkan generasi teleh memperoleh tempat sendiri di hati para masyarakat. Dan semakin menambah pula santri kyai hasyim asy’ari dari berbagai penjuru tanah air walaupun pondok belum genap usia 5 tahun ketika itu, tapi santri berambah kurang lebihnya 200 orang. Menginjak usia yang kesepuluh jumlah santri mencapai 2000 orang, yang antara lain bersal dari Singapura dan Malaysia.

              Pengakuan resmi berdirnya ponpes tebuireng dari pemerintah Hindia belanda yang masih menjajah Indonesia pada masa silamnnya pada saat itu diperoleh pada tanggal 6 february 1906 M. yang bertepatan dengan tanggal 26 rabbiul awal 1324 H.

Share this article :
0 Comments
Tweets
Comments

Poskan Komentar

 
Support : Miskin Ide Grafika
Copyright © 2012. MantebsZone - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Powered by Premium Blogger Template